About this title: A man and his young son traverse a blasted American landscape, covered with "the ashes of the late world." The man can still remember the time before. The boy knows only this time. There is nothing for them but survival- they are "each other's world entire"- and the precious last vestiges of their own humanity. At once brutal and tender, ...
read more
Note: This is a general synopsis. Each listing is described below.
Binding: Paperback
Publisher: Vintage Books
Date Published: 2007
ISBN-13:9780307277923ISBN:0307277925
Description: Acceptable. Minor moisture damage Overall below average used book. May have highlighting, underlining, notes, price sticker on cover, or be an ex-library book. read more
Edition: 26th Printing
Binding: Softcover
Publisher: Vintage International, New York
Date Published: 2006
ISBN-13:9780307455291ISBN:0307455297
Description: Very Good. 287 Pages. Measures: 5-1/4" x 8" Clean, tight copy with no writing or markings. The spine is only slightly creased. Not an Ex-Library book. Colorfully illustrated cover. Includes a brief biography of the author as well as a list of his other writings. Author is winner of the Pulitzer Prize; book made into a major motion picture. read more
Description: Good. Former Library book. Shows some signs of wear, and may have some markings on the inside. Shipped to over one million happy customers. Your purchase benefits world literacy! read more
Description: Very Good. Great condition for a used book! Minimal wear. Shipped to over one million happy customers. Your purchase benefits world literacy! read more
Description: Very Good. 0307387895 Paperback, Condition: Very Good; this book is in very good condition with light curve to the spine / light reading creases to the covers. read more
Description: Good. 2006 Vintage Press Softcover(Trade PB) Edition. Some wear/creasing to cover/pages, text clean with strong binding. Ships Fast! read more
Edition: Large Print edition
Binding: hardcover pictorial
Publisher: Center Point Large Print
Date Published: 2007
ISBN-13:9781585478934ISBN:1585478938
Description: Fair in good dust jacket. ex-library/associated marks/stickers, otherwise clean text; dj in protective sleeve & pasted down; general wear; spine slant; Large Print; Unabridged; read more
Binding: Trade paperback
Publisher: Vintage Books USA
Date Published: 2007
ISBN-13:9780307387899ISBN:0307387895
Description: Very good. No dust jacket as issued. (A153_5/9)Book is in good condition. Trade paperback (US). Glued binding. 287 p. Oprah's Book Club (Paperback). Audience: General/trade. read more
Binding: Trade paperback
Publisher: Vintage Books USA
Date Published: 2007
ISBN-13:9780307387899ISBN:0307387895
Description: Very good. No dust jacket as issued. Trade paperback (US). Glued binding. 287 p. Oprah's Book Club (Paperback). Audience: General/trade. read more
"The subject is very dark and you can almost feel yourself walking with this man and his child through the desolation. You can feel the compassion he has for his son but also the desperation to possibly have to end both thier lives if necessary. Good insight into the human condition and how people deal with something so terrible."
"I had nightmares, granted I was reading it right before I went to sleep. What an amazing introduction to Cormac McCarthy if you've never read him (which I hadn't). I will check out Blood Meridian next. I recommend this book for all parents; the depiction of the son, especially the way the son observes everything, was fascinating. part of me wanted to give up on them to protect my psyche, because to care meant such anxiety, but I persevered. Perhaps it's the Lacan I've been reading lately, but when it was over, I had a lovely dream, where my daughter and I were running around, late for an occasion, in some elysian field."
"The Road is the best novel in decades and places Cormac McCarthy at the forefront of modern British and American novelists. Although his earlier novels (and play) have enjoyed consistent high praise and critical review, in The Road, McCarthy achieves a level of the novel as enduring art which even those who had predicted greatness for this author might not have imagined.
Although settings in prior novels have ranged from the mid-South to the American West at the turn of the century (viz., the Border Trilogy), their recent themes were brutally raw savagery (No Country for Old Men), and left no denouement other than survival. The Road goes onward, through apocalypse and savagery, to courage and finally to hope through fierce determination and unstinting love.
The story is that of the Man and the Boy, his son, who are striving to reach an unidentified place at the end of the road they follow, through a world burned, blackened and relentlessly mean. The place and the cause of the apacolpse are unidentified; the savagery they encounter is unimaginale terror, but they persist in their passage, relying upon their wits, determination. and mostly on each other.
Surpassing even the dehumanizing of the world and its constant savagery, is the love and the tenderness between the Man and the Boy. The lack of humanness and humaneness of their world only serves to heighten the tenderness between them.
McCarthy now joins the ranks of Faulkner, Crane, Melville, and Joyce, and a handful of others as those who have in a unique and original way touched the heartstone of the novel as an art form which evokes honest human emotion.
McCarthy is today's foremost writer in a world of language and place of his own, a unique and foreboding past, present, and future, From the deserts of the Southwest to a barren burned earth, he has found universal truth and told it in unique prose and passion.
Read this book; then read it again. This is best novel you will read this year, or next year, or have read in the past half century.
"Seberapa banyakkah dunia ini memiliki cinta dan kebaikan? Siapakah yang memilikinya? Akankah cinta dan kebaikan kalah ketika harapan hampir-hampir sirna dari muka bumi? Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche pernah menuliskan jawaban demikian atas pertanyaan tadi: "Tak ada cukup banyak cinta dan kebaikan di dunia ini yang mengizinkan sedikitpun darinya pergi dari setiap insan." Itu berarti, jumlah cinta dan kebaikan hanya ada sejumput di dalam hati manusia, sisanya mungkin yang disebut dengan 'kebinatangan' kita. Pertanyaan yang sama, juga hendak dijawab oleh Cormac McCarthy lewat novelnya berjudul "The Road".
Diterjemahkan ke dalam edisi bahasa Indonesia menjadi "Jalan" oleh Gramedia Pustaka Utama 2009, novel pemenang Pulitzer Price for Fiction 2007 berisi epik tentang kehancuran dunia lewat penceritaan perjalanan berbulan-bulan seorang ayah dan anaknya melewati dunia Amerika yang telah hangus terbakar. Tak ada yang tertinggal di atas bumi, selain debu-debu sisa kebakaran: pohon mati menghitam, rumah terbakar, mayat-mayat, puing-puing sisa bangunan. Dinginnya malam saat itu sanggup meremukkan bebatuan. Debu terus turun, bahkan salju pun berwarna abu-abu. Mereka menuju ke pantai di daerah selatan, meskipun mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di sana. Mereka tidak punya apa-apa, hanya sepucuk pistol untuk melindungi diri dari serangan orang-orang barbar, pakaian mereka hanya yang melekat saja, dan kereta dorong yang berisi makanan yang berhasil mereka pungut di sepanjang perjalanan: apel kering yang hampir busuk, buah dalam kaleng di dalam bunker, atau kadang-kadang sekedar selimut atau terpal untuk melawan dingin malam dan hujan. Mereka makan, tapi lebih sering kelaparan. Dalam keadaan dimana harapan tempat yang lebih baik tidak ada, selain kehancuran total dan kebengisan mereka yang masih hidup, ayah dan anak itu mencoba bertahan dengan saling mengandalkan satu sama lain dengan cinta. Lewat dialog di antara mereka berdua, drama sesungguhnya dibangun.
Papa punya teman? Ya. Punya. Banyak? Ya. Papa ingat mereka? Ya. Aku ingat mereka. Apa yang terjadi pada mereka? Mereka mati. Semuanya? Ya. Semuanya. Papa merindukan mereka? Ya. Rindu. Ke mana kita? Ke selatan. Oke.
Hampir setiap malam, sang ayah selalu batuk-batuk tanpa henti dan ia tahu bahwa ia sedang sekarat menuju ajal. Sedang anaknya yang masih terlalu kecil itu, masih polos murni, hanya dapat mengenang bumi yang indah dan didiami oleh orang-orang baik melalui cerita ayahnya karena apa yang ia lihat setiap hari bertolak belakang semuanya. Sang ayah berjuang untuk melindungi anaknya dari ancaman dan kelaparan. Begitu cintanya pada sang anak, sampai-sampai pistolnya berisi dua peluru yang digunakan untuk bunuh diri bila perlu, takut-takut mereka malah ditangkap dan dimakan oleh para kanibal yang juga berkeliaran karena tidak adanya makanan lain. Menghadapi semua tantangan ini, ayah dan anak itu benar-benar hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Si ayah selalu melindungi dan si anak selalu harus percaya pada ayahnya. Dalam cerita itu, pembaca akan berulangkali membaca obrolan tentang "membawa api". Misalnya ketika mereka baru saja lolos dari rumah para kanibal, sang anak bertanya pada ayahnya.
Kita tidak akan makan orang kan? Tidak. Tentu saja tidak. Bahkan ketika kita kelaparan? Kita kelaparan sekarang. Kamu bilang kita tidak. Aku bilang kita tidak sekarat. Aku tidak bilang kita tidak kelaparan. Tapi kita tidak akan. Tidak. Kita tidak akan. Apapun yang terjadi. Tidak. Apapun yang terjadi. Karena kita orang baik. Ya. Dan kita membawa api. Dan kita membawa api, benar. Oke.
Atau ketika ayah meminta si anak untuk berani ditinggal sendirian, sementara sang ayah harus pergi memeriksa keadaan sekeliling.
Kamu tidak bisa. Kamu harus membawa api. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Iya kamu tahu. Apakah itu nyata? Api itu? Ya, sungguh. Dimanakah api itu? Aku tidak tahu dimana. Tentu kamu tahu. Ia ada di dalam dirimu. Ia selalu ada di sana. Aku tahu itu.
"Membawa api" dalam cerita ini berarti menggelorakan harapan, meskipun harapan itu sendiri begitu tipis di hadapan dunia yang dilukiskan Cormac McCarthy sebagai dunia ketika "pembunuhan terjadi dimana saja di atas bumi" dan "didiami oleh orang-orang yang tega memakan anaknya sendiri di depan matamu". Dunia yang mereka hadapi adalah neraka dan kita dapat membaca apakah yang akan dilakukan orang pada situasi seperti ini. Apakah masih ada harapan untuk menyelamatkan peradaban manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu menyertai kita sampai ke akhir cerita karena hanya dengan tetap menanam harapan, kita akan selamat, begitu kira-kira pesan novel ini.
Lewat novel ini, dan terlebih lewat tokoh "ayah", Cormac McCarthy menawarkan suatu konsep filosofis tentang apa yang baik dan jahat. Saat tidak ada yang namanya abu-abu. Saat "yang baik" digambarkan oleh mereka yang bertahan untuk tidak makan sesamanya dan tetap menjaga harapan akan kehidupan yang lebih baik. Baik atau jahat digambarkan begitu jelas, bahkan digambarkan lewat cerita ketika bertemu dengan seorang pria tua buta bernama Ely, ayah sampai-sampai berkata dirinya adalah dewa, yang menjaga kebenaran di dunia yang sedang sekarat. Dan si ayah sedang menjalankan misi, untuk menemukan orang-orang baik lainnya, semoga masih saja ada, karena ia percaya bahwa anak itu spesial. Sungguh anak itu benar-benar generasi kemanusiaan selanjutnya.
Ia telah berhasil menjadikan tokoh "ayah" sebagai semua orang dengan harapan semua orang terus menghidupkan harapan menghadapi dunia yang makin sekarat. Novel yang disebut sebagai salah satu dari 50 karya novel ekologis dunia ini rasa-rasanya memberikan asupan nilai yang begitu penting pada semua kita yang kini begitu entengnya menyikapi kehancuran ekologis di sekitar kita.
Beberapa catatan perlu diberikan untuk novel ini: Pertama, inspirasi novel yang luar biasa ini disebut Cormac McCarthy muncul saat ia pergi bersama anaknya ke El Paso, Texas tahun 2003. Saat itu ia membayangkan "kebakaran di bukit" dan memikirkan nasib anaknya kelak bila terjadi. Itulah yang menyebabkan nama anaknya, John Francis McCarthy, tercantum di lembar dedikasi. Setelah memenangkan banyak penghargaan, sebuah film adaptasi novel ini sedang masuk tahap pasca-produksi, dibesut oleh sutradara John Hillcoat dan nantinya diperankan oleh Viggo Mortensen dan Kodi Smit-McPhee.
Kedua, meskipun dapat dimengerti, namun boleh disayangkan bahwa proses penerjemahan novel yang disebut-sebut sebagai novel yang tidak mengindahkan penulisan tanda baca dalam bahasa Inggris ini tidak bisa menghadirkan gaya bahasa yang indah dan penulisan gaya Cormac McCarthy yang asli. Proses penerjemahan novel ini oleh Sonya Sondakh dan disunting oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono ini tidak bisa menyalin hal-hal semacam ini:
They looked at each other. One more. I dont want you to get sick. I wont get sick. You havent eaten in a long time. I know. Okay.
Lihat bagaimana absennya tanda baca di dalam dialog tadi. Yang terlewatkan juga dari proses penerjemahan adalah hilangnya sejumlah kosa kata yang jarang sekali digunakan dalam bahasa Inggris, semacam gryke, gambreled, laved, soffits, gelid, bivouack. Keindahan yang hanya bisa dirasakan dalam novel aslinya. Ada juga cacat dalam penerjemahan zombie yang ditulis dengan zombe. Namun secara utuh, novel ini sungguh layak mendapatkan perhatian kita."
We guarantee every item's condition, as described on Alibris. If you are not satisfied that an item is as described, return your purchase for a refund.