About this title: Set in a sleepy town in South Alabama during the Great Depression in the 1930s, this is a multi-layered story which dissects the white and black communities of the American South. Told with gentle humour, it focuses on religious turpitude and the ambivalence of adult morality.
Note: This is a general synopsis. Each listing is described below.
Binding: Paperback
Publisher: Mandarin
Date Published: 1989
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Good. * BOOKS DISPATCHED WITHIN 24 HOURS * SATISFACTION GUARANTEED * ALL QUESTIONS ANSWERED PROMPTLY * SHIPPED FROM UK * USA DELIVERY IN 3-5 DAYS * SHIPPED FROM UK: USA & EUROPE SPECIALISTS DELIVERY IN 3-5 DAYS. read more
Binding: Paperback
Publisher: Arrow, London
Date Published: 1997
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Very Good. 12mo-over 6¾"-7¾" tall. 309pp. Paperback in good condition, light creasing on front cover. Previous owners name on fep. read more
Binding: Paperback
Publisher: Mandarin
Date Published: 05/10/1989
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Used-Good. Book in good or better condition. Dispatched same day from warehouse. Please email with any questions for quick response. read more
Binding: Paperback
Publisher: Mandarin
Date Published: 05/10/1989
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Used-Good. Book in good or better condition. Dispatched same day from warehouse. Please email with any questions for quick response. read more
Binding: Paperback
Publisher: Mandarin
Date Published: 05/10/1989
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Used-Good. Book in good or better condition. Dispatched same day from warehouse. Please email with any questions for quick response. read more
Binding: Paperback
Publisher: Mandarin
Date Published: 05/10/1989
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Used-Good. Book in good or better condition. Dispatched same day from warehouse. Please email with any questions for quick response. read more
Binding: Hardcover
Publisher: Dnipro, Kiev
Date Published: 1977
Description: Very Good+ (Book Condition) Russian Edition (in English). Bound in red hard cover with black lettering and running figure on front cover. Rubbing to cover and extremities, wear to corners. Text is clean and binding is solid. Text clean, binding strong. [Our rating system: 1. Fine; 2. Near Fine; 3. Very Good; 4. Good; 5. Fair. ] read more
Binding: Softcover
Publisher: MANDARIN
Date Published: 1989
ISBN-13:9780749301347ISBN:0749301341
Description: Published by Mandarin in 1989. Paperback. Number of pages: 309. Condition: Good. Used book but in Good Condition for sensible price. Spine creased. Shipped from UK. Delivery is usually 2-3 working days from order by Royal Mail, International Delivery is by Airmail. read more
Binding: Softcover
Publisher: PENGUIN
Date Published: 1964
Description: Published by Penguin in 1964. Paperback. Condition: Very Good. May show some slight signs of wear. Shipped from UK. Delivery is usually 2-3 working days from order by Royal Mail, International Delivery is by Airmail. read more
"If I could give this no stars, I would. This is possibly one of my least favorite books in the world, one that I would happily take off of shelves and stow in dark corners where no one would ever have to read it again.
I think that To Kill A Mockingbird has such a prominent place in (American) culture because it is a naive, idealistic piece of writing in which naivete and idealism are ultimately rewarded. It's a saccharine, rose-tinted eulogy for the nineteen thirties from an orator who comes not to bury, but to praise. Written in the late fifties, TKAM is free of the social changes and conventions that people at the time were (and are, to some extent) still grating at. The primary dividing line in TKAM is not one of race, but is rather one of good people versus bad people -- something that, of course, Atticus and the children can discern effortlessly.
The characters are one dimensional. Calpurnia is the Negro who knows her place and loves the children; Atticus is a good father, wise and patient; Tom Robinson is the innocent wronged; Boo is the kind eccentric; Jem is the little boy who grows up; Scout is the precocious, knowledgable child. They have no identity outside of these roles. The children have no guile, no shrewdness--there is none of the delightfully subversive slyness that real children have, the sneakiness that will ultimately allow them to grow up. Jem and Scout will be children forever, existing in a world of black and white in which lacking knowledge allows people to see the truth in all of its simple, nuanceless glory.
I think that's why people find it soothing: TKAM privileges, celebrates, even, the child's point of view. Other YA classics--Huckleberry Finn; Catcher in the Rye; A Wrinkle in Time; The Day No Pigs Would Die; Are You There, God? It's Me, Margaret; Bridge to Terabithia--feature protagonists who are, if not actively fighting to become adults, at least fighting to find themselves as people. There is an active struggle throughout each of those books to make sense of the world, to define the world as something larger than oneself, as something that the protagonist can somehow be a part of. To Kill A Mockingbird has no struggle to become part of the world--in it, the children *are* the world, and everything else is just only relevant in as much as it affects them. There's no struggle to make sense of things, because to them, it already makes sense; there's no struggle to be a part of something, because they're already a part of everything. There's no sense of maturation--their world changes, but it leaves them, in many ways, unchanged, and because of that, it fails as a story for me. The whole point of a coming of age story--which is what TKAM is generally billed as--is that the characters come of age, or at least mature in some fashion, and it just doesn't happen.
All thematic issues aside, I think that the writing is very, er, uneven, shall we say? Overwhelmingly episodic, not terribly consistent, and largely as dimensionless as the characters."
"Dah selesai...bentar baru nulis reviewna nih...hehehehe. Duh mau nulis apa yah...bukunya Bagus banget ternyata...
"Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya...hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya." Harper Lee.
Quotation ini sebenarnya sudah lama diajarkan sama orangtuaku, jika kita terlalu sempit dalam menanggapi suatu permasalahan. Terutama saat kita mengeluarkan komentar mengenai tindakan atau perilaku seseorang yang kita anggap tidak atau kurang baik, pasti keluar pertanyaan: Bagaimana kalo kamu diposisi mereka? Apa yang kamu lakukan?...Wakkkssss.
Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab...Persis apa yang dikatakan Atticus kepada Jem dan Scout, ketika mereka selalu menanyakan tindak-tanduk orang-orang yang tinggal di Maycomb County. Dengan latar belakang Kehidupan warganya yang beragam kita jadi bisa memahami apa yang dilihat Scout melalui mata pemahaman seorang anak terhadap orang dewasa disekitarnya. Dan bahwa manusia itu tidak selalu yang kita sangka, kadang mereka bertingkah aneh dan diluar nalar karena mereka memang menginginkan seperti itu. Contoh saja nih Mr.Dolphus Raymond yang selalu membawa botol dibungkus kertas coklat dan cara minum seperti orang setengah mabok...anak-anak pikir dia minum wisky atau minuman beralkohol lain dan pantas untuk dijauhi, tapi ternyata botol itu selalu berisi Coca Cola. Anehnya, dia lebih suka orang berprasangka terhadap dirinya sebagai orang yang mabok. Disini Faktor MANUSIA-lah yang membedakan satu dengan yang lain. Selain mengajarkan mengenai kedewasaan melalui keterbukaan dan kasih sayang, To Kill a Mocking Bird juga mengajarkan bagaimana menjadi Wanita Terhormat...*halah*. Dibagian ini aku agak geli...
Beruntung juga Jem dan Scout mempunyai ayah seperti Atticus meski membesarkan dua anak seorang diri dia cukup mampu menjadi ayah dan ibu sekaligus. Dan Jem maupun Scout pun bukan tipe anak pembangkang, tapi anak-anak pintar yang suka menanyakan apa yang mereka pikirkan.
"Alurnya masih terasa lambat. Sepertinya memang begitu seharusnya untuk menggambarkan ketegasan Aticus yang berpesan kepada anaknya tentang usaha melawan rasialisme dengan pemikirannya. Ia tetap menghormati pendapat mayoritas yang berbeda dengan dirinya, yang utama buat Aticus adalah, "sebelum aku mampu hidup bersama orang lain, aku harus hidup dengan diriku sendiri. Satu hal yang tidak bisa tunduk pada mayoritas adalah nurani seseorang(hal. 206)."
Perlawanan atas rasialisme yang telah menahun dan mengarang harus tetap dimulai. Kasus yang ditunggu-tunggunya sebagai pengacara, kasus yang disebutnya "kasusku". Sudut pandang Scout dan suasana Maycomb yang lamban memang pantas menggambarkan rasialisme yang telah menjadi biasa di wilayah Alabama itu. Begitulah buat Aticus, "Hanya karena kita telah tertindas selama seratus tahun sebelum kita mulai melawan, bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berusaha menang (hal. 153)." Perlawanan pun dimulai bukan dengan gegap gempita tetapi dengan bersiap berbeda dan tidak merasa luar biasa. Seperti kesan Aticus yang tidak membanggakan di mata Scout dan Jem, sampai mereka tahu bahwa Ayahnya adalah penembak jitu yang menyembunyikan bakat luar biasanya itu. Hal ini mengalahkan dugaan saya yang menyangka buku ini akan dipenuhi dengan perdebatan dan heroisme ruang sidang.
Selesai bagian satu juga menunjukan peran pengasuh Jem dan Scout, Calpurnia. Wanita pengasuh berkulit hitam ini, turut menjadi pemberi nilai kepada Scout ketika ia berhadapan dengan seorang Walter Cunningham, "Siapa pun mereka, orang yang melangkahkan kakinya di rumah ini adalah tamu. Jadi, jangan sampai aku pergoki kau mengomentari kebiasaan mereka seolah kau lebih tinggi! Kalian mungkin memang lebih baik dari keluarga Cunningham, tapi kau tak ada artinya kalau mempermalukan mereka seperti itu... (hal. 57)." Cal, panggilan Calpurnia, mengajarkan tentang kerendahan hati bagi seorang perempuan terhormat, dengan tidak "berbahasa yang baik dan benar" di depan kaumnya yang biasa "berbahasa dengan baek dan bener". :D " Tidak selalu perlu menunjukan semua yang kita ketahui," tegasnya kepada Scout tentang kode etik perempuan terhormat. Sepertinya Calpurnia dapat bersikap seperti itu kepada kedua anak asuhnya atas otoritas dan keterbukaan Aticus, namun saya tetap memandangnya sebagai wanita dengan kehormatan. Nasehatnya, buat saya, bukan lahir dari orang tua yang suka mengkhotbahi, tetapi dari orang dewasa yang perlu berbicara tentang hal yang memang harus dikatakan. (Jadi inget Mbak Siti di Perdatam, hiks!)
Hua...dua pesan Calpurnia itu kok pas banget yah menjelang bulan puasa. Garuk-garuk mikir, " ups berapa sering nyela dan ngeremehin orang? berapa sering so toy pamer pengetahuan?" :(
Sssttt lanjut baca aja...
Finish
Kuncinya niat. Biarpun alurnya lambat sampai akhir, ternyata bisa juga baca cepat. Yah alurnya lambat, tidak gegap gempita. Hanya sebentar ketika persidangan nampak kejelian Aticus dalam menguliti dua saksi pihak jaksa. Di ruang pengadilan itu saya terpukau dengan pelajaran silogisme dari Aticus. Setelah menyudutkan saksi jaksa dengan kemungkinan berbohong, Aticus menelanjangi publik dengan silogisme mereka yang salah tempat. Silogisme yang salah karena semata didasarkan pada prasangka, dan juga simplifikasi logika salah kaprah itu. Aticus memang seorang pria terhormat, baik di dalam ruang sidang maupun di luar ruang sidang. Tangannya tetap tangan yang lembut membelai Scout dan Jem, bukan tangan mengepal yang membakar dirinya dan keluarganya. Saya memuji alurnya yang lambat demi menggambarkan sebuah perjuangan santun dalam mengubah watak rasial yang telah berkarat di sana.
Watak rasial yang telah berkarat bisa saja tidak disadari dan mengubah pelakunya menjadi hipokrit. Lihat betapa terlukanya Scout dengan sikap gurunya yang menista Hitler, sementara si guru ketika keluar dari ruang sidang adalah pendukung prasangka atas seorang kulit hitam. Untuk sesuatu yang jauh ia bisa demikian berapi-api, tetapi kejadian di dirinya luput ia dakwa.
Dalam sebuah sistem yang berkarat seperti itu sepertinya berharaplah tetap menjadi anak-anak, karena sedikit saja kita bertambah umur kita akan sudah menganggapnya biasa. Itulah nasihat yang diterima oleh Dill dari seorang yang merelakan dirinya dianggap pemabuk demi bisa jauh dari kaum yang menista orang lain semara kulitnya saja. Bila Jem terluka oleh peristiwa pengadilan Tom Robinson sehingga sempat mengancam Scout untuk tidak membuatnya mengingat peristiwa itu, karena kesadarannya nuraninya begitu terluka. Hanya anak-anak dan mereka yang merawat karunia masa kecil itu yang akan merasakan pedih. Selebihnya mungkin seperti ibu-ibu arisan teman Bibi Alexandra, mampu bersuara dibelakang tapi tidak sedikitpun sikapnya berkesesuaian dengan suaranya. Lewat mana suara itu lepas perlu dipertanyakan.
Hingga akhir, Aticus bukanlah pahlawan yang berhias bintang jasa. Hiasan yang memang tidak perlu karena ia menikmati hari-harinya untuk hidup dengan dirinya sendiri. Tidak begitu dengan Ewel yang tidak sedikit pun usahanya untuk menjadi "protagonis" bagi kaumnya berhasil meningkatkan status dan popularitas yang diharapkannya datang.
Selepas membacanya, saya berkesimpulan bahwa setiap kita adalah mahluk berprasangka. Setiap kita memiliki potensi untuk banyak berprasangka dalam berpikir. Di buku ini pun Jem, Dill, dan Scout berprasangka terhadap keluarga Radley. Namun mereka lolos dari hantu prasangka ketika mereka berani keluar dari tempurung prasangka. Anak-anak itu mendialogkan prasangka mereka dengan kenyataan yang mereka temui di diri keluarga Radley. Jujur mengaku salah atas angan-angan kosong di kepalanya. Ketiganya berhasil berdialog dan bergaul dengan sehat hingga menembus sekat prasangka. Bila berhasil jujur berdialog, mungkinkah hadiahnya seindah yang didapat Scout di ujung buku ini, berjalan dengan seorang pria terhormat? Ah tidak perlu, setiap berhasil berdialog dengan kenyataan dan mampu melucuti prasangka, itu pun hadiah terindah."
We guarantee every item's condition, as described on Alibris. If you are not satisfied that an item is as described, return your purchase for a refund.