About this title: This is the classic and immensely popular first novel in the series about Anne Shirley, an irrepressible red-headed orphan. The Cuthberts decide to adopt an orphan--a strong, hardworking boy to help with the farm chores. Anne is sent to live with them by mistake. Talkative, romantic and imaginative, Anne must convince the Cuthberts to keep her. Once adopted, Anne embraces her new life with energy, and no one who meets her is ever the same.
Note: This is a general synopsis. Each listing is described below.
"Kekonyolan Anna : Memberi Diana Barry anggur tiga gelas penuh, karena menyangka itu jus rasperry, membuat kue rasa minyak angin, karena mengira itu botol isi vanilla, memberi nama hutan berhantu, namun akhirnya ketakutan sendiri, berbaring di tengah sekoci yang akhirnya tenggelam namun ia sempat bergelantungan menyelamatkan diri di tiang dermaga, berjalan di atap rumah Diana, karena tantangan temannya, lalu jatuh hingga pergelangan kakinya patah.. Kekurangan Anna : Tidak bisa menahan emosi apabila seseorang mencela wajahnya dan rambut merahnya. Bahkan ia tidak mau berteman lagi hingga dewasa dengan Gilbert Blythe yang mengejek rambutnya, walaupun sudah meminta maaf.
Kebaikan Anna : Luar biasa ceria, pencerita unggul, ringan tangan, setia kawan Anna sangat suka bercerita panjang lebar jadi bisa dibilang kebaikan atau kekurangan ya.. namun itu lah kekhasan dirinya yang membuatnya sangat hidup dan menjiwai isi buku ini.."
"Marilla dan Matthew Cuthbert ingin mengadopsi anak laki2 untuk mengurus rumah yang mereka sebut Green Gables, di desa Avonlea. Matthew tak kuasa menolak ketika kekeliruan terjadi. Yang datang bukanlah anak laki2 melainkan seorang gadis yatim piatu berambut merah bernama Anne Shirley. Marilla yang awalnya bertekad mengembalikan Anne ke panti asuhan akhirnya luluh dan menyetujui rencana Matthew untuk mengadopsi gadis itu.
Anne digambarkan sebagai gadis yang ekspresif dan sangat imajinatif. Bicaranya nyerocos, sulit dihentikan. Bahkan ketika Anne menerima tantangan untuk berjalan di atap rumah keluarga Barry dan terjatuh hingga pergelangan kakinya patah, di Green Gables dia msh bisa bercerita panjang lebar kepada Marilla. "Ada satu hal yang sudah jelas, Anne" kata Marilla, "peristiwa jatuh dari atap rmah keluarga Barry sama sekali tidak melukai lidahmu" :D Imajinasi Anne luar biasa. Membuatnya sering melamun dan kadang lupa untuk kembali ke alam nyata. Marilla kerap jengkel padanya. Meski demikian, semua yang ada pada diri Anne membuat Marilla dan Matthew semakin hari semakin mencintai gadis itu.
Melalui Anne, desa Avonlea digambarkan begitu indah, membuat saya ingin mengunjunginya hehe. Anne selalu bisa bergembira, meski hanya dalam imajinasinya. Dia selalu bisa melihat kebahagiaan dari sisi yang lain. Bahkan ketika dia harus melepaskan beasiswa, mengubur impiannya untuk kuliah di Redmond, demi Marilla yang terancam buta dan hidup sendiri krn Matthew telah tiada, demi Green Gables yang terancam akan dijual, Anne tetap tersenyum dan berbahagia dengan keputusannya.
"Ketika aku meninggalkan Akademi Queen, tampaknya masa depanku terbentang luas di hadapanku, spt jalan lurus. Kupikir aku bisa melihatnya hingga patok2 jalan yg terjauh. Sekarang, ada belokan disana. Aku tak tau apa yang ada di sekitar belokan itu, tapi aku percaya hal2 itu adalah yang terbaik. Belokan itu memiliki pesona dan kelebihannya sendiri, Marilla..."
Buku yang bagus. Kisah yang menyentuh. Cerita yang banyak memberi pelajaran. Berbahagialah dengan apa yang kau miliki. Berbahagialah selalu seperti Anne :)"
"I don't often give books five stars and as I neared the end of this book, I gave some thought to how many stars this book deserved. I've read the Anne of Green Gables series once before - over twenty years ago. In spite of the amount of time that has elapsed, I clearly recall reading the last book in the series very slowly and thinking to myself, "I will be so sad to not be able to read about Anne anymore." When I picked up this book a few days ago to re-read it, I found within a few chapters that it was like seeing an old friend. Anne was even more delightful than I recalled, since I now have daughters who share her "scope for imagination," her penchant for large words and her zest for life. Reading about Anne's appreciation for life's loveliness made me appreciate my daughters and long to live more in-the-moment myself. So, I decided that a book that feels like an old friend after twenty years deserves five stars.
Anne Shirley must be one of the most delightful characters ever written, largely because she is far from perfect. She makes mistakes, as we all do, but her mistakes are much funnier than my own feel and she makes me see the value in learning from each of them, laughing at them and moving on. Like my middle daughter, there is no lukewarm with Anne. I love that she approaches life enthusiastically, despite have spent a decade belonging to no one.
I also like that Anne talks straightforwardly about wanting, seeking and building friendships. Even now, I am hesitant, awkward and scattershot at building relationships. I may meet someone who seems a kindred spirit, but lack the time or, let's be honest, sheer boldness to approach them and seek to build a friendship. We see Anne seek and build relationships not only upon her arrival in Avonlea, but during her time at Queens.
One reasons I re-read this book was because two friends recommended it for it's fluency in writing dialogue. Unlike Little Women, which I attempted to read for the writing, this book did not disappoint. The dialogue sounds exactly like each character would sound and it flows smoothly from narration to dialogue and back. In fact, I'm baffled that Little Women routinely makes top 100 lists while Anne of Green Gables is nowhere to be found on the lists of must-read classics. Unlike the Little Women characters who are archetypes rather than three dimensional characters, Anne is a bold a female character who refuses to be categorized. That's exactly why I love her and love this book."
"Sudah beberapa lama memiliki buku ini tapi masih merasa males untuk membacanya, bahkan saat seorang teman (Si Uyut) datang kerumah dan mengajak untuk baca bareng untuk bulan february-pun saya belum tertarik. Akhirnya setelah lama membiarkan kamar berantakan timbul keinginan saya untuk membereskan kamar, berikut dengan tumpukan buku yang berserakan dilantai maupun di kasur ( yups, kadang saya gunakan sebagai selimut buku-buku yang belum dibaca ). Nah begitu selesai, tangan saya mengambil dan menyisihkan si Anne ini, kemudian tanpa sadar membuka bungkus plastiknya dan mulai membaca kata-kata awal Anne yang ditulis dibawah pohon untuk Marilla Cuthbert, dan tanpa saya sadari ternyata sudah jam 1 dini hari dan saya sudah sampai chapter 25...sungguh-sungguh ketidaksengajaan yang menyenangkan. Akhirnya saya letakkan buku ini dan berusaha untuk tidur dengan mengalihkan pikiran saya dari Anne, meskipun dengan susah payah, saya berhasil tertidur. Dan paginya saya sedikit terlambat ke kantor karena bangun kesiangan.
Tapi ternyata di kantorpun saya sangat sulit untuk berkonsentrasi dikarenakan pikiran saya selalu pada si Anne ini. Duh. Selama seharian tersebut pekerjaan saya agak berantakan. Beruntung buku si Anne ini saya tinggal dirumah, saya tidak tahu apa jadinya kalo buku ini saya bawa ke kantor, pasti pikiran saya akan lebih kacau lagi karena daya magnet buku ini begitu kuat. Begitu jam pulang kantor tiba saya bersegera pulang dan memegang buku ini, dengan berusaha sekuat tenaga untuk akan memulai membacanya setelah saya menyelesaikan pekerjaan kantor yang bawa pulang.
Akhirnya jam 11 saya memulai membacanya lagi melanjutkan ke chapter 26, dengan ditemani sms dari seorang Aki yang kesepian minta ditemani ngerumpi akhirnya saya menyelesaikan buku si Anne ini pada jam 2 malam dengan hati haru-biru dan menitikkan air mata (bukan karena gosip dari si Aki yah ) karena akhir yang bukan bahagia tapi melegakan. Si Aki sempat menanyakan apa yang membuat saya menangis, kemudian saya ceritakan saja apa yang saya baca dan dia pura-pura tidak membaca sms saya, "Wakkksss spoiler!" katanya dengan panik.
Yups si Anne of Green Gables telah menyihir saya untuk menikmati indahnya Avonlea di Prince Edwards Island dan Green Gables dengan cara pandang yang berbeda, Anne mengajak saya berpetualang menjelajahi Permadani Violet dan Hutan Berhantu, mengunjungi Kanopi Kekasih dan bertemu dengan Ratu Salju atau berperahu mengitari danau Air Riak Berkilau dengan cara yang lain yaitu dengan cara memperluas daya imaji saya. Ehhhmmm Anne memang hebat, anak gadis 11 tahun ini memang berbeda dari anak gadi yang lain, dia selalu membawa keceriaan buat sekitarnya dan orang-orang yang mencintainya.
Anne selalu memberi nama pada segala sesuatu yang dia temui, Anne selalu tergetar setiap kali menemukan nama yang tepat pada sesuatu yang dia temui. Seperti yang dikatakan pada Matthew Cuthbert saat dia mengganti nama Danau Barry menjadi Danau Air Riak Berkilau, "Ya itu adalah nama yang tepat untuknya, aku tahu, karena aku tergetar. Ketika aku menemukan sebuah nama yang tepat, biasanya aku langsung tergetar....
Anne seorang yatim-piatu dari Nova Scotia, orangtuanya meninggal karena wabah demam. Dan membuat dia diasuh oleh keluarga mantan pengasuhnya dulu, meski dia menghadapi perlakuan yang kurang menyenangkan tapi tidak membuat gadis cilik ini berkecil hati. bahkan dia menanggapinya dengan sangat dewasa, seperti saat dia ditanya mengenai perlakuan kurang baik Nyonya-nyonya ( Mrs.Thomas dan Mrs.Hammond )yang diikutinya, Anne hanya menjawab; Oh, mereka bermaksud begitu--aku tahu mereka bermaksud untuk bersikap sebaik dan semurah hati mungkin. Dan ketika orang-orang bermaksud baik kepada kita, kita tak akan terlalu peduli jika mereka tidak diam saja--Anda tahu mereka memiliki banyak hal untuk dikhawatirkan.... Sangat tidak mudah buat seorang gadis cilik dibawah 11 tahun memandang kehidupannya dengan cara yang berbeda.
Anne of Green Gables bermagnet kuat karena kepolosan dan kejujurannya dalam segala hal yang terjadi padanya bahkan telah menyihir dua orang kakak adek Matthew dan Marilla Cuthbert untuk menyayanginya melebihi anak kandung. Dan kasih sayang mereka dibalas dengan pengorbanan Anne di akhir cerita. Bahkan seorang Gilbert Blythe yang dianggap musuh masa kacilnya pun mengorbankan karirnya sebagai guru di Avonlea untuk Anne, benar-benar cinta dan pengorbanan yang tak terungkapkan.
Buku Bagus yang MUST A READ buat semua,Buku mengenai kedewasaan dalam memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Ohya jangan sekali-sekali memanggil Anne dengan Wortel atau mengatai-ngatai rambut merahnya, kalau anda tidak ingin Anne membenci anda."
We guarantee every item's condition, as described on Alibris. If you are not satisfied that an item is as described, return your purchase for a refund.